Wahana Kebangsaan

Adalah organisasi non-profit yang bersendi nilai-nilai perennial

Wahana Kebangsaan Wahana Kebangsaan

Wahana Kebangsaan

Adalah LSM yang bergerak di bidang pendidikan multikulturalisme

Wahana Kebangsaan Wahana Kebangsaan

Situs Wahana Kebangsaan

Menyediakan konten, media dan sumber-sumber pendidikan multikulturalisme yang bisa didownload secara bebas

Situs Wahana Kebangsaan Situs Wahana Kebangsaan

LSM Wahana Kebangsaan

Berafiliasi secara longgar dengan semua lembaga dan individu yang concern dengan masalah pendidikan multikulturalisme dan perdamaian.

LSM Wahana Kebangsaan LSM Wahana Kebangsaan
 

Foto Kegiatan

pf (11).jpg

Quotes

What is the greatest sign of success for a teacher transformed? It is to be able to say, "The children are now working as if I did not exist."

Maria Montessori
Bangsa ini butuh Pendidikan Multikultural PDF Print E-mail
Written by Irsa Bastian   
ImageAneh, ketika banyak terjadi peristiwa kekerasan atas nama agama di negeri ini, kebanyakan dari kita justru tidak peduli atau tidak mau tahu dengan kejadian tersebut. Padahal jelas sekali bahwa peristiwa tersebut adalah sangat merisaukan, baik pada tingkat kehidupan  pribadi maupun kehidupan bernegara.

Banyak contoh kekerasan yang mengatasnamakan agama (lih Data Kekerasan Agama yang dilansir Wahid Institute). Penyerangan, perusakan, pembakaran, penutupan rumah ibadah, penangkapan dan intimidasi terhadap seseorang atau kelompok yang dianggap sesat. Kejadian ini menjadi semakin membingungkan, ketika aparat keamanan yang mestinya menjaga ketertiban, justru membiarkan dan bahkan terkesan memberikan dukungan terhadap berbagai tindakan destruktif tersebut. Tidak ada penangkapan terhadap pelaku tindak kriminal tersebut. Penangkapan justru terjadi pada orang-orang yang rumah ibadahnya dirusak. Hal lain yang membuat miris hati kita adalah, peristiwa kekerasan seperti diatas cenderung semakin meningkat. Hal ini menunjukkan bahwa hukum tidak berjalan dengan benar di negeri ini.

Dari tayangan televisi kita bisa menyaksikan bagaimana tiga terdakwa bom bali I, Amrozi, Ali Ghufron dan Imam Samudra tetap tidak berubah kesadarannya, meski akan menjalani hukuman mati. Militansi mereka tidak berkurang, tidak ada penyesalan sedikitpun di raut wajah mereka. Dengan semangat berkobar dan garang mereka terus meneriakkan takbir. Tidak ada penyesalan setetespun atas tindakan biadab yang telah mereka lakukan, ratusan nyawa tercerabut, banyak anak-anak menderita karena ayah atau ibu mereka meninggal ketika mencari nafkah buat mereka. Yang ada di pikiran mereka, adalah suatu perjuangan suci, mereka merasa telah melakukan pengorbanan terbaik untuk Tuhan dan agama mereka.
Demikian juga dengan orang-orang yang menyerbu, merusak, membakar dan mengusir suatu  komunitas yang dianggap sesat. Tidak ada secuilpun rasa penyesalan di hati mereka, tidak ada kesadaran bahwa mereka telah melakukan tindak kriminal. Mereka semua merasa telah berjuang untuk keagungan agama mereka. Yang ada di mind-set mereka adalah perjuangan menegakkan kebenaran (amar ma’ruf nahi munkar).

Darimana mengurai kekusutan ini?



Bagaimana mengatasi kekusutan ini? Menurut tokoh agama Buddha dari Jepang, Dr Yoichi Kawada, jawabannya adalah melalui dialog, pertukaran, keharmonisan, dan pendidikan. Namun ketika dialog diantara tokoh-tokoh agama sudah sering diadakan, pertukaran informasi mengenai suatu agama kepada pemeluk agama lain juga sudah dilakukan, tapi kenapa kekerasan atas nama agama tidak juga surut?

Dari penjelasan di atas, kita tahu bahwa akar kekerasan yang mereka lakukan berawal dari kesadaran (mind set) mereka. Di dalam mind set mereka tidak ada kebenaran yang lain (the other truth), selain dari kebenaran yang menjadi milik mereka. Kesadaran mereka dibebani oleh banyak prasangka: keyakinan/agama yang berbeda adalah sesat/kafir, suku yang berbeda dipandang lebih rendah dibanding sukunya.

Beban prasangka ini menjadi problem besar dan serius untuk konteks Indonesia, karena Indonesia adalah bangsa yang sangat plural, baik dari sisi keyakinan/agama, suku, ras dan kelas sosial.

Prasangka-prasangka ini telah mengakibatkan penderitaan yang luar biasa untuk bangsa ini, bahkan yang lebih mengkhawatirkan adalah bangsa ini bisa lenyap akibat pertikaian SARA yang tak kunjung usai.

 

Maka, bangsa Indonesia sebagaimana bangsa-bangsa lain di dunia yang keutuhan negaranya dibangun dari berbagai kebudayaan, (multicultural) seperti Amerika, Perancis,  maka untuk menjaga keutuhan negara (Integrasi bangsa) tersebut maka mau tidak mau harus dilakukan upaya Pendidikan Multikultural. Sebuah upaya penyadaran bahwa keanekaragaman (diversity) itu adalah suatu ketentuan hukum yang sudah digariskan oleh Tuhan.
 
< Prev   Next >

Polling

Melihat konflik SARA yang terjadi, pendidikan multikultural sudah mendesak diterapkan di Indonesia.
 

Just Insight!