| Home |
| Activities |
| Bulletin |
| Karya |
| Photo Gallery |
| Links |
| Contact Us |
| Search |
“What the child achieves between three and six does not depend upon doctrine but on a divine directive which guides his spirit to construction.”
| Filosofi |
|
|
|
| Written by Administrator | |
|
Bersama-sama menyambut Masa Depan Masa depan tak akan berarti apa-apa bila masa kini kita warnai dengan kecurigaan dan prasangka. Masa depan mungkin bukan lagi tempat kita menautkan cita-cita kita yang paling ideal, bila masa kini kita penuhi dengan permusuhan dan kebencian. Sungguh, masa depan bukan terletak jauh di depan langkah kaki kita setiap harinya. Melainkan masa depan datang sepotong demi sepotong setiap harinya kepada kita. Maka, mari kita penuhi hati kita dengan tulusnya persahabatan. Tak ada kata perbedaan dan pertentangan, karena semua itu hanyalah persepsi keliru kita tentang realitas yang tercipta dan terencana dengan sangat indahnya. Untuk apa Tuhan menciptakan kita? Akan sia-sia hidup kita bila kita sendiri tak tahu untuk apa kita ada di dunia.Bertuhan dengan cara yang Sederhana Tuhan sudah Maha Mulia sejak dulu kala. Tak perlulah kita memujinya sehari sekian ratus kali, tak perlulah kita menyembah-Nya sekian kali setiap hari. Toh hal itu tak akan menjadikan Dia lebih mulia dari sebelumnya. Dan itu pun tak membuat kita lebih mulia di hadapan-Nya. Dia disembah atau diingkari, tetap saja Dia adalah Pencipta kita. Kita selalu berdoa kepada-Nya atau protes kepada-Nya, itu tak membuat Dia bergeming dari keagungan-Nya. Lalu untuk apa kita mempersoalkan agamaku, agamamu, agama mereka. Toh semua agama adalah sama. Semuanya diturunkan Tuhan untuk menunjukkan jalan keselamatan bagi umat manusia. Ada agama yang diturunkan 5000 tahun yang lalu, 3000 tahun yang lalu, 2000 tahun yang lalu, dst. Sudah beribu-ribu tahun umur agama, semua berusaha menunjukkan jalan kebaikan bagi manusia. Apakah tidak aneh bila kita mendapati semua agama itu kini berkumpul menjadi satu, saling menyalahkan, saling mengritik dan saling menghegemoni? Bah, aku sih lebih baik cuci tangan dari semua itu. Aku lebih suka berkawan dengan semua umat dari agama apa pun. Mereka semua adalah saudaraku, keluargaku, sesama ciptaan Tuhan, yang konon ingin sekali menjalani hidpnya dengan penuh kebahagiaan dan kedamaian.Senyum Tulus Menyikapi Perbedaan Ada-ada saja manusia itu. Kadang mereka merasa tak puas bila dalam hidupnya tak punya seseorang yang dimusuhi dan dibenci. Mungkin mimpiku selamanya hanya akan menjadi mimpi. Aku lihat dalam mimpiku semua orang saling bergandeng tangan, tersenyum dengan sangat tulusnya, dan sebagian meneteskan air mata karena haru oleh sejuknya hawa persahabatan. Kulihat dalam mimpiku orang tak lagi peduli apa agama mereka, dari mana asal mereka. Entahlah, bagaimana awal mula semua ini bisa terjadi. Tapi aku sangat bahagia merasakan kedamaian, meskipun itu hanya mimpi. Apa sih perbedaan kita sesungguhnya? Tak ada! Kita semua bukanlah siapa-siapa. Kita hanyalah makhluk renik yang terjebak di planet bumi, planet yang termasuk kecil juga. Sedangkan jagad raya berisikan milyaran galaksi dengan trilliunan bintang dan planet. Untuk apa semua itu diadakan? Untuk kita-kah? Bila kita lebih suka mempersoalkan identitas primordial kita, tentu semua ciptaan itu akan terkesan sia-sia.Bersama-sama Menghindari Kejahatan Kasihan nasib manusia yang terjebak di antara pertarungan abadi antara kebaikan dan kejahatan, antara malaikat dan iblis. Ah, tapi kan semua manusia pasti ingin hidupnya sejahtera, damai dan bahagia. Dan semua itu konon hanya bisa diperoleh kalau manusia menjauhi kejahatan. Hanya kebaikanlah yang dipercayai mampu mendatangkan kedamaian. Itu pasti! |